Posted by: nugrohob | April 2, 2009

Membiasakan Memegang Kamera yang Benar

Oleh Rony Simanjuntak

Zaman boleh berubah, demikian pula dengan teknologi kamera. Dulu kamera analog, sekarang kamera digital, semua itu mudah berubah. Cuma satu hal yang sulit berubah dalam fotografi, yaitu soal kebiasaan, yakni kebiasaan dalam memegang kamera.

Entah kenapa si pemotret melakukan “pelanggaran” dalam memegang kamera. Mungkin lantaran dianggap hal yang sepele sehingga sering luput dari perhatian. Ironisnya, kesalahan itu bukan hanya dianut oleh mereka yang baru kenal fotografi, melainkan juga para fotografer profesional sekalipun.

Jangan pernah ada lagi di benak Anda bahwa cara memegang kamera itu memang masalah kebiasaan jika ingin memperoleh hasil foto yang baik. Bukan apa-apa, kesalahan dalam memegang kamera akan menimbulkan banyak sekali kerugian.

Kerugian-kerugian itu antara lain adalah tidak lincah dalam memfokus atau bergoyangnya kamera saat menjepretkan rana. Pada fotografer jurnalis alias wartawan foto, ketidaklincahan dalam memotret akan merupakan kerugian besar sebab banyak kejadian yang hanya berlangsung sekejap.

Dengan Telunjuk
nugiePada prinsipnya, kamera dirancang untuk dijepretkan dengan telunjuk tangan kanan, bukan dengan jari atau bahkan dengan tangan kiri. Maka untuk pemotret yang kidal, hal ini sedikit banyak mungkin tidak nyaman, namun harus dilawan dengan kebiasaan.

Coba rasakan untuk menjepretkan rana dengan ibu jari tangan kanan atau juga dengan jari lain di tangan yang sama. Keleluasaan dalam menekan tombol pelepas rana pasti lebih rendah daripada menekan dengan jari telunjuk.

Setelah kita menyadari keutamaan tangan kanan pada proses pemotretan, hal ini yang harus kita sadari adalah pemanfaatan tangan kiri. Dengan konsentrasi tangan kanan pada penentuan saat untuk menjepretkan tombol pelepas rana, tangan kiri mempunyai tugas untuk menahan berat kamera saat memfokus.

Pada pemakaian kamera yang berfasilitas autofokus, tangan kiri akhirnya semata dipakai untuk menambah kestabilan dalam memegang kamera. Kalau pada kamera sedang terpasang lensa yang panjang, peran tangan kiri dalam menyangga berat kamera memang tidak bisa dihindari.

Untuk kamera saku yang ringan dan berfasilitas autofokus, pemotretan bisa dilakukan dengan satu tangan saja. Dan kamera saku yang beredar memang umumnya dirancang untuk bisa dioperasikan dengan satu tangan.

Mata
Pertanyaan yang sering diajukan pemula adalah perlukah menutup satu mata saat memotret. Untuk menjawab pertanyaan ini, masalah kebiasaan kembali menjadi jawabannya. Namun kalau belum terlambat, biasakan membidik sambil membuka kedua mata.

Fotografer profesional hampir semua membuka kedua matanya saat membidik dan memfokus. Satu matanya melihat dari jendela bidik sementara mata lain menyaksikan adegan di luar kamera untuk berjaga agar jangan sampai kehilangan beberapa adegan lain yang saat itu tidak terbidik.

Pada pemotretan yang tidak membutuhkan kewaspadaan ekstra seperti memotret peragaan busana, konsentrasi mata pada satu titik memang penting. Namun hal ini pun tidak usah dikaitkan dengan memicingkan salah satu mata.

Memicingkan satu mata jelas menuntut konsentrasi ekstra dan ini sering membuat kita terlambat dalam memotret cepat. Kalau kita membidik dengan mata kiri, maka mata kanan mau tidak mau tertutup secara otomatis oleh badan kamera atau oleh tangan kanan.

Kebiasaan lain yang juga kurang diperhatikan oleh pemotret adalah terburu-buru saat memijit tombol rana. Jika si pemotret menggunakan kamera saku AF (autofokus), hasilnya gambar tampak buram (tidak fokus). Kamera belum sempat menyesuaikan diri, jepretan terlanjur terjadi. Sebaiknya kalau memotret dengan kamera saku AF, tekan dulu tombol sedikit sekitar dua detik, kemudian ditekan sampai bunyi “ceklek” terjadi.

Kesalahan lain dengan pemakaian kamera ini adalah saat memotret objek yang terpencar, misalnya memotret dua orang di depan kita. Kamera menyesuaikan penyetelan jarak penajaman berdasarkan pantulan yang datang dari benda tepat di depannya.

Jadi bila dua orang di depan kamera, dan kebetulan titik tengah bidikan jatuh pada celah antara kedua orang itu, mau tidak mau kamera akan menyesuaikan penajaman pada benda yang ada di antara dua orang itu. Mungkin gunung nun di jauh sana atau mungkin pula pohon di jarak beberapa puluh meter. Hasilnya, foto orangnya buram, sementara gunung atau pohon di kejauhan tampak tajam.

Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya saat menekan tombol penyesuaian fokus (belum menjepret), titik tengah bidang bidik yang tampak di mata di arahkan pada salah satu dari dua orang yang akan dipotret. Lalu dengan hati-hati geserlah kamera sampai mendapatkan komposisi yang diinginkan, barulah jepretkan kamera.

Satu hal yang perlu diingat, apa yang tampak di mata dari lubang bidik selalu tajam sementara di film belum tentu. Mata manusia melihat dengan tajam di lubang bidik karena punya fasilitas tersendiri untuk itu, sementara kamera butuh penyetelan yang memakan waktu walau cuma sejenak. Maka disarankan, hentikan kebiasaan lama Anda, ganti dengan yang baru!


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: