DEPTH OF FIELD (DOF)
DOF adalah ulah iseng diafragma, dalam hal ini wujud fisiknya. Lensa 50/2.0 di format 4/3 akan sama DOF-nya dengan lensa 100/4.0 di 1dsmkxxx, akan sama dengan 75/3.0 di Nikon D2x, FOVnya pun sama sepanjang subyeknya sama dan jaraknya dari kamera sama.
Lensa 50/2.0 akan sama DOF-nya dengan 100/4.0 di format 4/3 sepanjang jaraknya subyeknya sama, TETAPI FOV di 100/4.0 lebih sempit (karena lebih tele).
DOF adalah “kedalaman” sebuah pandangan lensa. DOF juga di tentukan oleh Aperture, atau si F tersebut. Sebuah F/1.4 mempunyai kedalaman pandang yang lebih sempit, dibandingkan F/4. Artinya, apabila anda mengambil sebuah foto yang berisi 2 manusia dan satu berdiri di depan dan satu di belakangnya dan anda focus pada orang yang di depan, pada F/1.4 kemungkinan besar orang yang di depan (yang anda focus) akan terlihat jelas dan tajam, namun orang dibelakangnya akan menjadi semu / buram / blur. Ini bukan gangguan pada lensa atau kamera anda, tapi ini adalah kedalaman pandang lensa anda. Apabila anda mengeset pada F/4, dan focus pada orang yang sama, maka kedua orang tersebut – yang depan dan belakang – kemungkinan besar akan terlihat jelas dan sama tajamnya. Itulah sebabnya apabila foto portrait sendiri, banyak orang akan mencari lensa dengan F yang besar (angka F yang kecil), untuk menghilangkan segala bentuk “distraksi” atau gangguan yang dapat menghalangi isolasi sebuah objek. Sedangkan untuk foto pemandangan dimana orang ingin mendapatkan setiap detail – biasanya akan di set pada F/8 sampai F/11.
PERSPEKTIF
Tergantung pada focal length lensa anda, background (latar belakang) sebuah objek dapat terlihat dekat atau lebih jauh. Visual efek tersebut dapat dinamakan “perspektif”. Dengan focal length yang kecil (lebih wide angle), background objek anda anda terlihat lebih jauh, daripada sebuah lensa dengan focal length yang lebih besar.
MACRO
Macro adalah jenis lensa yang dapat focus pada sebuah objek dengan sangat dekat, dan biasanya mempunyai kemampuan pembesaran sebuah objek dengan sangat mendetail. Macro ini biasanya juga terbagi menjadi 1:1 (true macro) yang dapat mendapatkan detail secara 1:1, dan 1:2 (walaupun termasuk lensa macro – banyak orang menyebutnya bukan TRUE macro). Biasanya lensa macro ini digunakan untuk mengambil gambar serangga, bunga, dan benda2 kecil lainnya.
FISH EYE
Sebuah jenis lensa yang dapat mengambil gambar dengan angle of view 180 derajat, dan menghasilkan gambar yang agak “spherical” atau cembung. Maka dinamakan lensa mata ikan (entah karena bentuk lensanya yang seperti mata ikan – atau gambar yang dihasilkan seperti pandangan seekor ikan). Lensa ini adalah lensa exotis, biasanya tidak dapat digunakan dalam keseharian kita (jarang lah).
ASPHERICAL LENS
Aspherical lens ini bukan lensa biasa, lensa ini cenderung lebih baik kualitasnya, dan tetap mempunyai ukuran yang relatif kecil, sehingga dapat mengurangi ukuran keseluruhan sebuah lensa. Dan biasanya, lensa aspherical dapat melebarkan sudut pandang sebuah lensa dengan tetap menjaga ukuran, meningkatkan kualitas dan juga mengungari efek negatif sebuah lensa.
JENIS ELEMEN LENSA
Lensa juga terbagi dalam jenis elemen yang berbeda beda pula. Dan ada tingkatannya, tentunya semakin baik tingkatan sebuah elemen, semakin baik pula penangkapan gambarnya. Selain elemen lensa “biasa”, ada elemen yang setidaknya diatasnya, dan biasanya sebutannya berbeda untuk setiap produsen lensa yang berbeda pula. Tapi kiranya dapat di sebut LD / ED yang artinya Low Dispersion, atau Extra-Low Dispersion. Yang mempunyai kemampuan untuk menghasilkan warna, ketajaman, tingkat purple fringing, dan chromatic aberrations yang lebih baik. Setingkat diatasnya biasanya di sebut SLD / SED yang artinya Super Low Dispersion atau Super Extra-Low Dispersion. Tentunya lensa yang mengandung elemen tersebut lebih mahal daripada lensa yang hanya berisi elemen “biasa”. Namun bukan berart sebuah lensa tanpa elemen tersebut itu jelek lho…
STABILIZER
Lensa juga mempunyai stabilizer yang dapat mengurangi blur apabila terjadi goyang / getar, atau shake. Sehingga anda dapat lebih nyaman mengambil gambar tanpa terlalu khawatir apabila anda mengambil foto dimana anda kurang seimbang, atau gemetaran karena gugup mungkin? Hehehe, dan juga membantu saat slow-shutter speed dimana geteran adalah suatu hal yang rawan membuat gambar blur. Stabilizer ini tidak bisa dipastikan bekerja 100%, tapi memperbanyak hasil gambar yang baik dibandingkan tanpa stabilizer. Misalkan: Anda sedang mengambil foto lowlight dengan shutter speed yang relatif lambat, tanpa stabilizer, mungkin hanya 5 dari 10 foto yang anda ambil layak untuk di cetak (kecuali anda bisa mematung dengan sempurna), sedangkan dengan stabilizer, anda bisa mendapatkan 8 dari 10 foto yang anda ambil, layak untuk di cetak. Stabilizer tidak memberikan kepastian, namun memberikan kemungkin hasil yang baik lebih banyak. Dan juga saya mendengar bahwa lensa dengan stabilizer cenderung membuat baterai kamera anda lebih boros (benar tidaknya saya belum bisa konfirmasi). Dan juga, sama seperti jenis elemen lensa, setiap produsen mempunyai nama sendiri untuk stabilizer pada lensa ini. Nikon: VR (Vibration Reduction). Canon: IS (Internal Shake-reduction atau Internal Stabilizer gak tau mana pastinya hehe). Leica: Mega O.I.S. (Optical Internal Stabilizer). Dll.
SUPERSONIC MOTOR
Lensa lensa generasi baru dilengkapi dengan motor supersonic, dimana lensa tersebut dapat focus lebih cepat, lebih “smooth”, dan lebih sunyi dibandingkan dengan lensa yang tidak mempunyai supersonic motor. Sampai dengan saat ini, Supersonic motor masih terus dikembangkan dan sepertinya akan menjadi sebuah “standard” pada sebuah lensa.
INTERNAL FOCUS
Lensa jenis ini mempunyai system IF (Internal Focus) dimana pada saat mencari focus, ukuran fisik sebuah lensa tidak memanjang atau memendek. Tidak semua lensa mempunyai fitur seperti, namun saya sangat suka dengan fitur IF ini. Berhubung lensa anda tidak kelihatan maju mundur saat mencari focus (keren aja gitu), dan tidak takut kepentok benda apapun yang mungkin ada didepan lensa anda (siapa tau anda tidak sengaja atau gimana lah).
Sekian dulu dari pada yang bisa saya berikan mengenai segi teori dan teknis sebuah lensa SLR, semoga dapat membantu rekan2 sekalian, khusus nya bagi para pemula untuk memahami lebih mendalam kebutuhan lensa anda.
Ilustrasi ASPHERICAL LENS
garis titik2 menunjukkan bila tanpa apsherical
Bila kita tidak menggunakan Appherical lens, maka untuk mengurangi effek distorsi (ketidak sempurnaan titik fokus) akan diperlukan diameter lensa dan jarak lensa ke titik fokus yg lebih besar, yg tentu membuat dimensi lensa keseluruhan menjadi lebih besar dan beratnya pun nambah.
ISTILAH FOTOGRAFI.
————————-
LS:
Singkatan dari longshot. Dengan lebih mendekatkan objeknya, shot ini tetap
masih memberikan sudut pandang lebar tetapi sudah mulai mengarahkan perhatian pada
objeknya dengan memisahkannya dari latar belakang yang mungkin mengganggu.
MACRO:
Makro. Pengertiannya dalam fotografi adalah sarana untuk pemotretan dari jarak
dekat. Fotografi makro akan menghasilkan rekaman (pada film) yang sama besar
dengan benda aslinya (1:1), atau paling kurang separuh dari benda aslinya (1:2),
namun demikian pada lensa-lensa jenis zoom yang mempunyai fasilitas untuk
menghasilkan rekaman seperempat dari benda aslinya (1:4) juga sudah bisa dikatakan
makro.
MACRO LENS:
Lensa makro. Lensa yang digunakan untuk pemotretan dengan objek yang berukuran
atau pemotretan berjarak dekat (mendekatkan pemotret ke objek), umumnya dipakai
untuk keperluan reproduksi karena dapat memberikan kualitas prima dan distorsi
minimal. Misalnya: untuk memotret bunga, serangga, dll.
MACRO PHOTO:
Dibuat dari jarak dekat, bisanya tentang benda atau binatang kecil. Perlngkapan
kerjanya biasanya menggunakan lensa makro untuk mendekatkan pemotret ke objek
fotonya.
MAGNETIK:
Berdaya magnet.
MAGNIFICATION:
Pembesaran. Dikukur dari gambar film dibandingkan dengan ukuran aslinya.
MANIPULASI FOTOGRAFI:
Teknik mengubah hasil cetak yang ditangkap oleh kamera untuk menciptakan
suasana tertentu. Foto-foto realitas dikembangkan sedemikian rupa sehingga
menghasilkan gambar yang tidak biasa lagi.
MANUAL:
Dikerjakan dengan menggunakan tangan dengan mengesampingkan tenaga otomatik.
MEDIUM FILM:
Film dengan kecepatan sedang (ISO 100, 200). Kelompok film yang paling popular
dan banyak diminati pemotret. Ideal untuk pemotretan dalam cuaca yang
terang/cerah.
MEDIUM FORMAT CAMERA:
Kamera format medium. Adalah jenis kamera SLR yang menggunakan jenis film 120
mm. Dibandingkan dengan kamera format kecil, kamera ini mempunyai keunggulan
dalam hal pembesaran cetakannya yang optimal sehingga umumnya dipergunakan untuk
memotret objek orang (potret) yang berkarakter, yang menampakkan detail kuat
seperti misalnya kulit keriput orang tua.
MEGALIGHT:
Adalah sebutan untuk sebuah lampu flood yang mempunyai kapasitas atau kemampuan
cahaya yang amat besar hingga 7 meteran.
MESNICUS LENS:
Adalah lensa tipis yang berbentuk bulan sabit.
METERING:
Pola pengukuran cahaya yang biasanya terbagi dalam 3 kategori. Centerweight,
evaluative/matrix dan spot.
METERING CENTER WEIGHT:
Pola pengukuran cahaya yang menggunakan 60 persen daerah tengah gambar.
METERING MATRIX:
Pola pengukuran pencahayaan berdasarkan segmen-segmen dan prosentase tertentu.
METERING SPOT:
Pola pengukuran cahaya yang menggunakan satu titik tertentu yang terpusat.
MF:
Manual Focus, adalah cara kerja menemukan fokus atau penajaman gambar yang
dilakukan dengan menggunakan tangan.
MICRO DIAPRISM:
Kumpulan prisma-prisma kecil yang berfungsi untuk mendapatkan ketajaman gambar
melalui pengamat.
MCROPRISM:
Prisma mikro. Sistem penemu jarak optis yang menggunakan prisma halus atau
kumpulan prisma-prisma kecil yang berfungsi untuk mendapatkan ketajaman gambar
melalui pengamat.
MICROPHOTOGRAPHY:
Fotografi yang menggunakan film berukuran kecil dengan menggunakan bantuan
mikroskop.
MULTICOATEDla FILTER:
Filter anti-flare untuk mencegah refleksi intern dalam lensa oleh pantulan
cahaya. Diciptakan untuk lensa yang belum multicoated.
MULTI EXPOSURE:
Sering disebut dengan singkatan ME. Memberikan pencahayaan lebih dari satu kali
pada satu bingkai film.
MULTIPOINT READING:
Suatu pembacaan atau pengukuran dalam pencahayaan yang dilakukan terhadap
berbagai titik objek foto.
MULTIVISION FILTER:
Filter yang digunakan untuk membuat gambar ganda dalam sekali jepretan. Filter
ini dibuat dengan menggunakan kaca yang sengaja diasah menurut tujuannya –
berkeping prisma 3,5, disusun melingkar, berjajar atau paralel berulang-ulang.
MULTILAYER COATING:
Penyelaputan berlapis-lapis pada lensa.
MULTIPLE EXPOSURE:
Fasilitas pemotretan berulang pada satu bingkai (frame) yang sama.
MULTIPLE EXPOSURE LEVEL:
Tuas bidikan ganda. Adalah tombol untuk menyiapkan kamera pada posisi siap
bidik tanpa memajukan film ke bingkai berikutnya. Digunakan untuk melakukan lebih
dari satu kali pencahayaan (exposure) pada bingkai yang sama dalam pemotretan.
Alat ini dipakainya bersamaan dengan pengokangan film.
NANOMETER:
Satuan pengukur panjang gelombang. 1 Nanometer = 1nm adalah sepermiliarmeter.
NATURAL AND ENVIRONMENT (NE/NES):
Salah satu kategori yang dilombakan dalam World Press Photo. Foto-foto atau
sekumpulan foto bercerita dari subjek berupa lingkungan dan alam:flora, fauna,
lanskap, ekologi, dsb.
NATURE PHOTOGRAPHY:
Fotografi alam yang berkaitan dengan alam semesta, misalnya darat, laut,
sungai, dll.
ND FILTER:
Filter ND. Filter ini berfungsi untuk menurunkan kekuatan sinar 2 kali sampai 8
kali. Filter ini bernada abu-abu muda atau sedang dan tidak mengubah warna
gambar.
NEBULA FILTER:
Filter yang menghasilkan gambar dengan efek pancaran sinar radial yang
berpelangi.
NEGATIF:
Kebalikan dari aslinya. Yang menghasilkan gambar negatif.
NEGATIF FILM:
Film negatif atau klise, adalah sebutan untuk citra yang terbentuk pada film
sesudah dipotretkan dan sesudah dikembangkan, di mana bagian yang terlihat gelap
pada gambar, pada objek terlihat terang. Warna yang timbul berlawanan karena
bagian terang dari objek memantulkan banyak cahaya ke film dan menghasilkan area
gelap.
NEUTRAL DENSITY:
Kepadatan netral yang tidak mengandung warna. Sebutan ini biasanya dipakai
untuk lensa penyaring yang berfungsi untuk mengurangi kecerahan sinar.
NEWS FEATURE:
Sering disebut dengan cerita di balik berita, yaitu suatu foto yang menyajikan
sisi lain dari suatu situasi atau aneka peristiwa yang hangat.
NIKON:
Salah satu merek peralatan kamera buatan Jepang.
NIRMANA:
Adalah susunan gambar dalam bingkai, jalannya garis-garis yang dominan
membentuk bidang-bidang utama yang dibatasi oleh suatu format.
NONREFLEX CAMERA:
Kamera nonrefleks yang tidak menggunakan cermin putar. Contohnya seperti kamera
kompak atau kamera langsung jadi Polaroid.
NORMAL CONTRAS:
Kontras yang wajar. Tidak berlebihan dan tidak kurang sebagai hasil
pengembangan film atau hasil sebuah cetakan.
NORMAL LENS:
Lensa normal, berukuran fokus sepanjang 50 mm atau 55 mm untuk film berukuran
35 mm. Sudut pandang lensa ini hampir sama dengan sudut pandang mata manusia.
OBSCURA:
Cikal bakal kamera yang digunakan saat ini. Prinsipnya adalah sebuah kamar
gelap yang tertutup dengan lubang kecil di depannya. Jika kamera obscura
ditempatkan menghadap benda yang diterangi cahaya maka akan terlihat sebuah gambar
proyeksi terbalik dari benda tersebut pada dinding yang berhadapan dengan lubang.
CAMERA OBSCURA:
Kamera pertama dalam dunia fotografi, di mana bentuknya merupakan sebuah kamar
gelap yang hanya memiliki lubang kecil (pinhole).
OBSERVASI:
Dalam bidang potret memotret adalah pengamatan yang dilakukan untuk mencari
tahu tentang subjek foto terutama mengenai gerak-gerik, suasana hati maupun
ekspresi.
OPAQUE:
Opak, ialah sifat padat atau kedap sinar. Baik pandangan maupun sinar tak dapat
menembusnya. Misalnya lempengan besi, kayu, karton, dll.
OPTIK:
Berkenaan dengan penglihatan (cahaya, lensa, dsb).
ORTHOCHROMATIC FILM:
Film yang sensitif terhadap warna biru dan hijau tapi tidak pada merah.
OVER EXPOSURE:
Pencahayaan lebih. Suatu nilai pencahayaan yang terdapat paa film maupun foto,
di mana gambar yang ada tampak terang atau gelap pada film negatif karena
pencahayaan yang berlebihan.


